This article is part of the series:Advice from a Sister from Another MotherA collection of honest reflections and practical lessons from a 30-something to her 20-something sisters—about love, self-worth, career, money, and navigating this wild thing called life. Written from the other side of the storm—because I might know a thing or two.
Disclaimer: Tulisan ini terutama ditujukan buat kamu yang sedang merencanakan beli rumah bareng pasangan setelah menikah, dengan skema keuangan bersama (tanpa prenup). Karena yang kami jalani adalah kisah dua kepala yang mencoba membangun satu rumah secara utuh—dalam arti harfiah dan emosional.
Aku nggak tau kapan tepatnya impian soal rumah mulai masuk akal. Yang jelas, aku udah tau sejak lama rumah kayak apa yang aku mau: harus ada pekarangan biar adem, lokasinya di Jakarta tapi nggak di ujung dunia, dan jalannya harus cukup buat tiga mobil lewat. I’m not even sorry—aku memang agak rewel. Tapi buat tempat tinggal seumur hidup, kita boleh dong picky?
Lucunya, di sisi lain, aku nikah sama laki-laki yang romantisnya muncul dalam bentuk spreadsheet. Literally. Dari sebelum menikah, dia udah nyeret aku bikin deck soal rencana hidup: proyeksi penghasilan, simulasi KPR, opsi sewa vs beli, dan bahkan traveling tahunan ke Bali atau Amerika. Bukan tipe cinta yang dikisahin di FTV, tapi justru tipe cinta yang bikin bisa tidur nyenyak walau dunia lagi gonjang-ganjing.
Setelah nikah, kami memutuskan untuk sewa rumah dulu. Bukan karena belum mampu beli, tapi karena kami sadar: kadang kamu perlu tinggal dulu untuk tahu apa yang penting buatmu. Dan ternyata, banyak hal berubah.
Dari situ, kami belajar banyak hal tentang diri sendiri. Aku, misalnya, baru sadar betapa pentingnya punya jendela besar di tembok-tembok —karena angin itu bikin hati adem. Aku juga butuh dapur yang nggak bikin gerakanku kejedot dinding tiap lima menit. Sementara suamiku ternyata nggak bisa hidup tenang kalau nggak punya workspace yang jauh dari suara TV dan panci. Kami pikir awalnya cukup dua kamar dan satu ruang keluarga. Turns out, privacy is underrated—dan kami butuh space to retreat, bukan cuma space to exist together.
Kami juga sering jalan-jalan akhir pekan dan sightseeing ke perumahan. Liat-liat cluster baik yang baru atau yang udah lama, ngebayangin tinggal di situ, mikir soal akses, suasana, dan lingkungan. Dan dari situ, kami jadi sadar: kami sama-sama kerja dan nggak punya keluarga dekat, jadi preferensi kami mengarah ke gated cluster yang aman, minim risiko, dan nggak ribet urusan sosial yang terlalu kompleks. Aku pribadi sempat naksir perumahan yang udah established—rasanya hangat ngeliat kehidupan warga yang tumbuh jadi komunitas.
Kami pernah hampir beli rumah. Ukurannya pas, layout-nya cocok banget. We saw so much potential. Ada halaman belakang yang bikin ngiler, dan harga yang masuk akal. Tapi... letaknya deket banget sama kali. Dan bayangan punya toddler lari langsung ke arah sungai, atau potensi ular masuk halaman? That's a no. Kami mundur dengan hati berat tapi logika menang.
Ada juga satu-dua rumah lain yang aku suka tapi nggak jadi. Pernah hampir ambil rumah 250 meter yang gede banget, tapi kebayang maintenance-nya bikin aku ngos-ngosan. Aku bukan tipe yang rajin bersih-bersih, dan kalau rumahnya segede itu, bisa-bisa isinya malah jadi ruang kosong + argumen mingguan soal siapa yang nyapu.
Yang aku sadari selama proses ini: perjalanan cari rumah itu bukan cuma soal lokasi dan cicilan. Ini juga soal kenal diri sendiri, dan kenal pasanganmu lebih dalam. Tentang melihat apa yang bikin kamu nyaman, apa yang bikin kamu triggered, dan mana yang bisa dikompromikan. Rumah bukan cuma bangunan—tapi cermin dari gaya hidup, nilai, dan ritme kalian sebagai tim.
Jujur aja, kami tahu bahwa nggak semua orang punya jalur dan rezeki yang sama. Kami pun bisa sampai di titik ini bukan cuma karena disiplin atau banting tulang 24/7, tapi juga karena alhamdulillah ada kemudahan dan privilege kecil yang nggak semua orang punya. Dan justru karena itu, kami belajar untuk lebih pelan-pelan, lebih banyak mikir, dan lebih sadar bahwa rumah bukan soal menang cepat, tapi tentang jadi tempat tinggal yang beneran ingin kita tinggali.
Oh, and one more thing they don’t always tell you:
If you buy a house during the course of marriage, and you don't have a prenup, that property legally belongs to both of you—no matter whose name is on the certificate.
Yes, even if hanya satu yang tercantum di SHM. Yes, even if satu pihak yang bayar cicilan dari A to Z. Karena menurut hukum pernikahan di Indonesia, aset yang diperoleh selama masa pernikahan dianggap harta bersama—kecuali kalau kamu punya perjanjian pranikah yang sah.
Jadi sebelum kamu bilang, “Nggak apa-apa rumah atas nama aku aja” atau “Ya udah, dia aja yang urus,” please understand what that means—both emotionally and legally.
Pada akhirnya, rumah yang kami beli datang dengan caranya sendiri. Kami nggak buru-buru, tapi juga nggak pasif. Selama bertahun-tahun kami nabung, sambil terus belajar: dari kunjungan tiap weekend, ngobrol sama agent properti, nanya ke teman-teman, bahkan konsultasi finansial sama bapak CFO kantor.
Dan rumah ini... ya, dia mencentang semua kotak. Ada halaman belakang. Jalannya muat tiga mobil. Di depan rumah taman, bukan rumah tetangga—yang artinya: no forced interactions, no drama parkiran, dan udara yang bisa masuk tanpa harus saling intip.
Rumah ini bukan hadiah. Tapi juga bukan hasil buru-buru. Rumah ini kayaknya datang waktu kami udah cukup tenang buat nerima dia. Bukan rumah impian. Tapi rumah yang akhirnya kami sebut pulang.
Karena pada akhirnya, ini bukan cuma soal beli rumah. Ini tentang ngebangun hidup—bareng-bareng.

0 comments