Duniaku porak poranda sejak poros kehidupanku berpulang. Aku selalu tahu bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup, bahwa setiap manusia hanyalah titipan, bahwa pada akhirnya semua yang kita cintai akan kembali kepada Sang Pemilik. Aku paham itu sejak dulu, mungkin terlalu paham. Tapi ketika hari itu benar-benar datang, ketika Mama benar-benar pergi, semua pengetahuan itu runtuh begitu saja. Tidak ada teori yang cukup untuk menyiapkan hati menghadapi kehilangan sebesar ini. Tidak ada kalimat bijak yang bisa membuat dada terasa lebih lapang. Yang tersisa hanya hening yang panjang, dan aku berdiri di tengah reruntuhan dunia yang tiba-tiba asing.
Rasanya jiwaku hancur berkeping-keping. Kalau Voldemort dalam cerita Harry Potter memecah jiwanya jadi tujuh horcrux, aku bahkan tidak tahu harus memakai angka berapa untuk menggambarkan pecahanku sendiri. Rasanya bisa ratusan ribu keping, jutaan tercecer ke segala arah, melayang-layang tanpa bisa kujemput kembali. Aku berjalan, makan, bekerja, tertawa tipis-tipis—tapi sebagian besar diriku masih sibuk mencari serpihan-serpihan jiwa yang hilang sejak Mama pergi. Ada bagian yang ikut terkubur, ada bagian yang ikut menguap bersama napas terakhirnya, ada bagian yang mungkin tidak akan pernah kembali.
Dan anehnya, meski aku sadar bahwa Mama hanyalah titipan Allah, yang sudah tertuang di Lauh Al Mahfuz, meski aku tahu bahwa semua orang pada akhirnya akan kembali, kesadaran itu tidak serta-merta membuatku tenang. Ia hanya jadi mantra yang kuulang-ulang di kepalaku, semacam penopang rapuh agar aku tidak benar-benar ambruk. Aku bilang ke diriku sendiri, Mama sekarang sudah pulang ke Rahimahallah. Aku yakinkan hatiku bahwa beliau baik-baik saja, bahwa beliau sedang dalam pelukan kasih sayang Allah yang lebih luas daripada semua rindu yang merobek-robekku. Aku bisikkan pada diriku bahwa insya Allah kuburnya lapang, penuh cahaya, penuh doa-doa yang terus mengalir. Dan mungkin, itu cukup untuk membuatku bertahan. Tapi rindu, ia tetap saja mengetuk, tak pernah kenal kompromi.
Aku masih ingat ada seseorang yang berbisik kepadaku di hari pemakaman Mama. Ia berkata pelan, “It’s okay, sayang, untuk menangis. Tapi jangan lupa juga untuk bahagia, atas semua kenangan indah bersama Mama. Karena Allah sudah kasih pinjaman terindahnya buat kita.” Kata-kata itu sederhana, tapi menancap. Di tengah tangis dan kekacauan, bisikan itu seperti menyalakan lilin kecil. Tidak membuat gelap hilang, tapi memberi cahaya agar aku bisa melihat sekeliling.
Beberapa waktu kemudian, seorang temanku yang lebih dulu kehilangan ibunya bercerita padaku. Ia kehilangan Mamanya karena Covid, beberapa tahun lalu. Ia bilang, “Duka ini nggak akan hilang, hanya akan berubah bentuk. Karena sayang kita sama beliau itu akan selalu kita bawa sampai kapan pun.” Dan aku terdiam. Aku sadar benar, kalimat itu ada benarnya. Rasa kehilangan ini mungkin tidak akan pernah mengecil, tapi mungkin bisa berubah bentuk, kadang jadi rindu yang sesak, kadang jadi doa yang lembut, kadang jadi senyum kecil ketika mengingat kenangan.
Rinduku sederhana. Seringnya bukan pada momen-momen besar, tapi pada hal-hal kecil yang dulu kupikir remeh. Celetukan Mama yang suka nyeletuk soal apapun, bahkan hal-hal sepele di rumah. Nada suaranya yang khas ketika menegurku, kadang kesal, kadang lembut, kadang bercampur tawa. Cara beliau selalu punya komentar tentang masakan, entah kebanyakan garam, entah kurang pedas, entah terlalu manis, entah komentarnya setiap makan di restoran yang templatenya adalah "Mama juga bisa masak ini di rumah." Atau bahkan sekadar tatapan matanya yang penuh makna saat aku bicara terlalu cepat. Semua hal kecil itu ternyata bukan remeh, tapi justru tulang punggung keseharianku. Dan kini, tulang punggung itu patah.
Hidup tetap berjalan, tentu saja. Hari-hari terus berganti, matahari tetap terbit dan tenggelam, jam tetap berdetak. Tapi aku merasa orbitku kacau balau. Kehilangan Mama bukan sekadar kehilangan orang tua, tapi kehilangan pusat gravitasi. Hidupku mungkin masih berputar, tapi jalurnya berantakan entah kemana. Aku seperti planet yang kehilangan matahari, masih melayang, tapi tanpa arah, tanpa pusat, tanpa cahaya yang dulu jadi pedoman.
Ada satu lagu yang selalu jadi pemantik air mata setiap kali aku dengar: Bertaut dari Nadin Amizah. Lagu itu rilis tahun 2021, jauh sebelum Mama pergi, tapi entah kenapa setiap kali nadanya mengalun, aku otomatis teringat Mama. Rasanya seperti lagu itu memang ditulis untuk hubungan kami. Tentang keras kepala yang sama, tentang cara marah dan cara senyum yang mirip, tentang bagaimana nyawaku terasa menyala karena ada Mama.
Aku ingat pertama kali benar-benar mendengar lagu itu dengan hati, bukan sekadar lewat. Air mataku jatuh begitu saja. Rasanya seperti Nadin sedang meminjamkan kata-kata yang tidak sanggup aku rangkai sendiri. Liriknya adalah isi dadaku, tapi dengan melodi yang membuatnya lebih lembut, lebih bisa dipeluk, meski tetap sakit.
Sekarang, Bertaut jadi semacam doa yang dinyanyikan. Setiap kali aku memutarnya, aku merasa Mama hadir sebentar. Aku merasa ada jembatan yang menghubungkan dunia ini dengan tempat beliau sekarang berada. Lagu itu jadi ruang kecil untuk rindu yang tidak bisa lagi kuucapkan langsung. Dan bisa-bisanya lagu ini diputar oleh tukang kusen sebelah kuburan saat aku berkunjung ke makam Mama hari minggu lalu, mengundang banjir bandang air mata yang sudah siap tumpah ruah.
Dan mungkin itulah kenapa, di tengah semua kekacauan ini, aku menemukan satu-satunya zona nyaman yang bisa kupegang erat-erat, doa. Saat rindu menyergap begitu kuat sampai rasanya sesak, aku berdoa. Saat air mata jatuh tanpa aba-aba, aku berdoa. Saat malam terasa panjang dan dingin, aku berdoa. Doa adalah cara terakhirku berkomunikasi, satu-satunya saluran yang masih terbuka. Aku tidak bisa lagi mengirim pesan ke Mama. Tidak bisa lagi mendengar jawabannya langsung. Tapi aku percaya, setiap kali aku menyebut namanya dalam doa, ada malaikat yang menyampaikan.
Kadang aku menambahinya dengan ibadah sunah—shalat, tilawah, dzikir—dan kutransfer pahalanya untuk Mama. Atau aku bersedekah atas nama beliau. Itu caraku merasa tetap dekat. Caraku menunjukkan bahwa cinta ini masih bekerja, meski jarak kehidupan dan kematian membentang di antara kami. Aku tidak tahu apakah Mama bisa merasakan semua itu, tapi aku percaya Allah mencatatnya. Dan keyakinan itu cukup untuk membuatku merasa sedikit lebih utuh.
Doa memang tidak menghapus rindu, tapi doa membuat rindu itu lebih tertata. Kalau awalnya ia datang seperti badai yang menghantam tanpa ampun, doa membuatnya lebih lembut, seperti hujan yang jatuh perlahan. Masih membasahi, masih membuatku menggigil, tapi tidak lagi menghancurkan. Setiap doa yang kupanjatkan, setiap pahala yang kutransfer, setiap sedekah yang kusisipkan atas nama Mama, semuanya adalah cara kecilku menambal pecahan jiwa yang berserakan. Mungkin aku tidak akan pernah utuh lagi seperti dulu. Tapi mungkin aku bisa belajar hidup dengan bentuk baru, dengan luka yang perlahan-lahan menjelma jadi ruang untuk cinta yang lebih luas.
Aku sering berpikir, kehilangan ini tidak akan pernah benar-benar bisa kuterima. Ada bagian dariku yang selalu ingin melawan kenyataan, selalu ingin menjerit bahwa ini tidak adil. Tapi kemudian aku ingat bahwa cinta itu sendiri memang tidak pernah adil. Ia datang tanpa kita minta, dan ia pergi tanpa kita siap. Mungkin memang tugas kita hanya menjaga sebaik mungkin selama diberi kesempatan, lalu belajar merelakan ketika waktunya habis.
Dan pada akhirnya, aku mencoba percaya bahwa cinta Mama tidak benar-benar hilang. Ia hanya berganti bentuk. Kini ia hadir dalam ingatan yang menghangatkan sekaligus menyakitkan. Ia hadir dalam doa-doa yang kulantunkan setiap hari. Ia hadir dalam caraku tertawa, dalam caraku berbicara, bahkan dalam caraku menulis. Mama meninggalkan banyak hal kecil yang menempel di diriku, dan dari situlah aku tahu meski tubuhnya sudah kembali ke tanah, cintanya masih hidup, mengalir dalam darahku.
Mungkin hidupku porak poranda sekarang, mungkin aku masih sering terduduk di reruntuhan sambil menangis. Tapi dari serpihan-serpihan ini, aku akan belajar menyusun ulang. Tidak akan sama, tidak akan pernah utuh lagi seperti semula. Tapi mungkin itulah cara hidup mengajarkan ketabahan, bukan dengan mengembalikan apa yang hilang, tapi dengan menunjukkan bahwa dari kehilangan pun, kita masih bisa berjalan.
Dan aku berjalan. Dengan rindu yang tidak pernah reda, dengan doa yang tidak pernah putus, dengan cinta yang tidak pernah mati. Suatu hari nanti, aku percaya, insya Allah, akan ada pertemuan lagi. Di tempat di mana tidak ada perpisahan, di ruang di mana doa berubah jadi tatap muka, di surga yang dijanjikan. Sampai hari itu datang, aku akan terus menambal kepingan jiwaku dengan doa, terus mengirim cinta lewat pahala, terus menyebut namanya dalam setiap sujud. Karena itu satu-satunya cara yang kutahu untuk bertahan, dan satu-satunya cara yang kutahu untuk terus mencintai.

0 comments