This article is part of the series:
Advice from a Sister from Another Mother
A collection of honest reflections and practical lessons from a 30-something to her 20-something sisters—about love, self-worth, career, money, and navigating this wild thing called life. Written from the other side of the storm—because I might know a thing or two.
Aku nggak mau bahas politik. Tapi politik udah lama bahas kantong kita duluan.
Coba inget kapan terakhir kali kamu ngerasa gaji kamu cukup. Bukan cukup buat nabung agresif — cukup buat hidup dengan tenang. Bayar cicilan, makan layak, sisain sedikit buat masa depan, tanpa harus ngitung ulang tiap akhir bulan.
Kalau kamu kesulitan ngingetnya, itu bukan karena kamu boros.
Itu karena memang makin susah.
Ini bukan soal salah siapa. Tapi juga bukan kebetulan.
Inflasi itu kebijakan. Suku bunga itu kebijakan. Upah minimum itu kebijakan. Harga BBM, harga beras, biaya pendidikan, akses kesehatan, semuanya kebijakan. Dan kebijakan itu dibuat oleh orang-orang yang kita pilih, atau yang kita biarkan terpilih tanpa suara kita.
Jadi waktu kamu bilang "aku nggak tertarik politik" it's fair. Politik memang sering melelahkan dan menjijikkan, it's nasty and filthy. Tapi politik sangat tertarik sama hidupmu. Dia nggak nunggu kamu tertarik dulu.
Kemampuan kamu buat milih gaya hidup itu bukan cuma soal disiplin finansial.
Kita suka banget framing "kamu miskin karena nggak pintar manage uang." Dan ya, financial literacy itu penting. Tapi ada batas di mana spreadsheet terbaik pun nggak bisa kompensasi kebijakan yang strukturnya memang nggak berpihak.
Kalau UMR nggak naik tapi harga kebutuhan pokok naik terus, itu bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan budgeting app.
Dan ini khusus buat kamu yang kelas menengah, yang mungkin lagi baca ini di sela-sela kerja atau di commute yang entah keberapa.
Kita ini lucu ya.
Paling rajin dan rapih bayar pajak. Paling nggak dapet bantuan karena dianggap mandiri. Tapi juga nggak kaya-kaya amat. Beli rumah perlu KPR yang cicilannya mungkin akan kita bayar sampai anak kita udah SMA. Dua reinkarnasi mungkin belum lunas.
Terlalu miskin untuk santai. Terlalu "mampu" untuk dibantu.
Yang paling menyebalkan? Kita yang paling sering kena narasi "ini salah lo sendiri karena nggak pintar manage uang" padahal kita udah hitung, udah spreadsheet, udah cut budget segala macam, dan tetap aja ngerasa kencang di dada tiap tanggal 25. Kita yang ada di pinggir jurang turun kelas kalo sampe kena layoff.
Sisterly advice:
Belajar dari current politic climate, buat next time. Don't be tone deaf, you can read my writings, you have that privilege.
Aku nggak akan kasih tau kamu harus milih siapa di next pemilu. Tapi aku minta satu hal: jangan pisahkan pilihan politikmu dari kondisi hidupmu sehari-hari. Tanya diri sendiri, siapa yang kebijakan-kebijakannya paling mungkin bikin hidupmu, dan hidup orang-orang yang lebih rentan dari kamu, sedikit lebih layak?
Mulai dari situ.

0 comments