Leaving the Nest (And My Sanity) Behind, With a Fragrant Leap of Faith

Hari ini datang juga, an epilogue for my 12 years of career in natural ingredients.

Ada yang bilang, kalau kita sudah merasa terlalu nyaman di satu tempat, itu tandanya kita sudah berhenti tumbuh. Tapi masalahnya, tumbuh itu sakit, ya? Apalagi kalau kita sudah punya safe space dalam berkarir sendiri selama 12 tahun, tempat aku dimana ngerasa kayak di rumah sendiri dan juga orang-orang di dalamnya. Di industri raw material esp. Essential Oils, aku sudah hafal luar kepala tiap lekuk masalahnya. Aku tahu cara navigasi supaya selalu above expectation. Di sana, aku bukan cuma kerja, but I think I have become somebody.

Kemudian seiring datangnya tawaran menarik, aku memutuskan buat say goodbye. Aku mau pindah ke industri fragrance. New industry, new company, new me. Kedengarannya keren, tapi aslinya? Aku nyut-nyutan karena nervous.


Ketakutan aku itu sebenernya receh tapi eksistensial. Aku kepikiran, gimana kalau di sini aku nggak bisa sehebat aku biasanya? Gimana kalau performaku ternyata cuma average? Ada beban 12 tahun pengalaman yang nempel di pundak aku, seolah-olah semua orang bakal nungguin aku buat jadi the upgraded version of prodigy dari hari pertama. What if I didn't survive? Rasanya kayak jadi atlet veteran yang tiba-tiba pindah cabang olahraga dan harus mulai dari nol lagi.

Belum lagi masalah transisi aku yang ini. Pas interview, aku tampil tanpa hijab. Tapi di hari pertama nanti, aku bakal melangkah masuk sebagai seorang hijabi di tengah melting pot perusahaan multinasional yang isinya beragam banget. Ada ketakutan tentang the silence of culture. Kamu tahu kan, hal-hal yang nggak tertulis tapi menentukan apakah kamu diterima atau nggak di level mid-senior management? Those small icks that can define your entire career. Apa aku bakal dipandang sebelah mata? Apa pilihan aku buat menutup aurat bakal jadi variabel yang bikin karierku mentok?

Dan yang paling bikin hati aku dag-dig-dug-duer itu soal rencana Allah. Kami sudah menunggu buah hati selama 6 tahun. Selama interview, aku jujur sama user kalau we've been trying to conceive as long as I remember, dan sekarang ada di titik if it happens, it happens. Tapi ada satu sisi tahu diri yang bisik-bisik di telinga, "masa baru masuk sudah hamil? nggak enak lah sama kantor."

Unwritten etiquette ini jahat banget, ya. Gimana kalau doa yang aku langitkan selama 6 tahun ini justru dikabulkan di saat aku baru menapakkan kaki di kantor baru? Apa aku bakal dianggap beban? Rasanya ironis kalau sesuatu yang sangat aku dambakan malah bikin aku merasa bersalah secara profesional.

Kadang aku mikir, am I really stupid? Aku punya karier yang sudah sangat mapan, yang bisa bikin aku santai-santai sampai pensiun. The comfort zone that felt like home. Kenapa aku malah milih buat nyemplung ke ketidakpastian ini?

Aku udah tumpahin semua isi kepala ini ke suami. Aku bilang kalau aku takut soal jilbab, takut soal hamil, takut nggak bisa perform. Dan dia, dengan tenangnya, cuma bilang, "kamu beneran khawatir kehilangan pekerjaan cuma karena kamu mau lebih dekat sama Tuhan dengan berjilbab? Atau karena kamu akhirnya hamil setelah nunggu 6 tahun?"

Kalimatnya sederhana, tapi langsung bikin aku diam.

Dia bilang, kalau sampai itu terjadi dan for some reason aku merasa terzalimi, dia sudah siap dengan rencana cadangan buat kami. Dia siap jadi bantalan kalau aku harus jatuh ke tanah. Di detik itu aku tersadar, selama ini aku sibuk nyari safety net di kantor baru dengan menggantungkan nasib ke mantan timku yang sudah di sana duluan. Aku lupa kalau safety net terbaik itu justru lagi duduk di sebelah aku.

Momen itu kayak wake-up call. Ternyata, hampir semua ketakutanku ini cuma soal dunia. Aku terlalu sibuk menghitung risiko manusia, ririko karir dan penghasilan aku sendiri, sampai aku lupa kalau saat kita mencoba melayani Sang Pemilik Alam Semesta, Dia nggak mungkin tinggal diam. Kalau Dia yang manggil aku ke arah ini, harusnya aku percaya Dia juga yang bakal jaga jalannya.

The future smells like a mix of expensive perfume and my cold sweat. Agak ironis memang. Tapi ya sudahlah. If it's messy, let it be messy. Karena mungkin, memang begitulah cara kita bertumbuh, kan?

0 comments