Ngobrol Sama Diri Sendiri di Toilet (dan Tempat Lainnya)

DISCLAIMER: ini semua adalah hasil dari kumpulan notes aku kala kerja, nyetir, duduk di toilet (dan selanjutnya ahahaha), atau bahkan hasil ide selintas saat lagi ngomong sama orang.

Hidup itu adalah merasa (*sok puitis nya mulai). Merasakan denyut-denyut kehidupan dalam nadi dan sanubari kita dengan definisi kehidupan yang kita sadari. Aku suka mikir, apa sih yang penting dalam hidup? Mengejar harta, tahta, dan kuasa? Walaupun memang hidup butuh hal-hal yang bersifat keduniawian untuk bertahan. Atau hidup untuk passion? Mengerjakan hal yang kita suka setulus hati demi kepentingan hasrat kita itu sendiri dan menanggung semua konsekuensi baik dan buruknya? Atau hidup untuk berjalan beriringan bersama dengan apa yang khalayak umum jalankan atau hidup seperti iklan? Pikiran-pikiran kayak gini adalah sebuah keistimewaan gengs milenial saat ini yang punya kebebasan untuk merenungkan existential crisis, dengan kata lain baru aja aku sombong dengan mencetuskan kebebasan aku untuk berpikir mengenai keberadaan aku saat ini.

Sampai sekarang, aku juga belum tahu pasti kalau aku ikut paham penganut memiliki “existential crisis” atau nggak, tapi hampir dua tahun menjalani kehidupan sebagai pegawai swasta, aku ngerasa aneh sendiri. Awalnya memang cukup ambisius dan mungkin terlihat menjajikan sampai dikasih kesempatan loncat lagi ke jenjang berikutnya dalam kurun waktu singkat, tapi setelahnya kayak ada yang kurang dan hari-hari mulai terasa penat, jenuh dan mimpi-mimpi masa muda ku, maksudnya keinginan-keinginan sayap kiri tanpa mempertimbangkan sisi materialistis datang lagi. Mau ikut Indonesia Mengajar yang kalau bisa dapat penempatan di Fak-Fak atau Mentawai atau Bima, mau tinggal di tempat terpencil yang jauh dari pemancar sinyal, dan hidup untuk memberi tanpa ada cela perilaku. Mau lanjut sekolah S2 untuk lanjut belajar mengenai sustainable development dan poverty alleviation dari sisi pendidikan di tempat nun jauh di Eropa sana atau Selandia Baru.

Kadang, pikiran aku melayang membayangkan aku dan murid-murid ku belajar matematika dengan batang pohon tebu, atau belajar pembuahan putik sari dan benang sari melalui pohon mangga dekat gerbang sekolah, kadang juga kepikiran lagi belajar menulis surat untuk ibu-ibu tetangga, menyambut malam dengan diskusi ringan dengan keluarga angkat dan mulai banyak membaca. Kadang pula, waktu yang harusnya dipakai untuk kirim email appointment dengan klien, malah habis dilarut bayangan aku saat autum diskusi dengan professor mengenai thesis s2 aku.

Ada yang bilang, hati-hati sama keinginan kita sendiri, bahkan ketika itu hanya terlintas ataupun sekedar ingin jauh di dalam hati, karena lucunya kadang keinginan-keinginan sekelebat ini justru yang menghampiri kita dan jadi nyata. Aku ingat dulu pas masih awal-awal masuk kuliah kepengen banget bisa ke New York dan tinggal sewa apartement sama Zay as a roommate. Hal itu antara kepengen banget tapi ga diusahain banget juga, dan tebak apa yang selanjutnya terjadi? Dua minggu lagi aku bakalan ada di New York! Harapan pasif yang sekedar ikut-ikutan berbalik jadi kenyataan, nggak Cuma ke New York, tapi aku juga bakalan ke Miami. Sebuah reminder bahwa harus lebih banyak bersyukur lagi atas kemurahan hati Allah SWT yang selalu luar biasa baik buat aku.

Mengenai pekerjaan, seharusnya aku nggak banyak mengeluh mengenai jobdesk harian yang kadang membosankan dan kadang menjengkelkan atau rasa kebosanan aku karena sudah merasa menguasai semua masalah disini, atau malah karena harus bersinggungan dengan orang-orang yang harus bekerja sama dengan aku dan malah seringkali adu argument. Pekerjaan ini memang bukan genuinely sesuatu yang aku harapkan untuk lakukan untuk diriku di masa depan, terlepas dari ups and downs, aku bersyukur untuk bisa kontribusi membantu my mom, to be a living proof that she doesn’t fail to raise a wonderful daughter *sombong lagi :P just kidding, dan pekerjaan ini memberi kesempatan untuk melihat cakrawala kehidupan seluas-luasnya semega-meganya. Another reminder untuk aku supaya terus bersyukur bahwa Allah SWT memberi aku kesempatan emas untuk menikmati hidup di dunia ini.

Dulu, pas masih sendiri kepengeeen banget cepet-cepet punya pacar yang beneran, a thing that realistically you can see yourself and partner move further to another step, bukan Cuma sekedar ngarep dan feeling the highest and deepest of love tanpa ekslusifitas. 6 months and counting, I admit that a great relationship will ask a lot of effort and hard work that sometimes requires us to swallow our ego , but the result pay it off and it is even more than wonderful, it is a meaningful. Banyak perubahan terasa, mungkin sangat perlahan tapi pasti bahwa Ahmed selalu ingetin bahwa hidup adalah aksi, bukan reaksi ataupun rekreaksi apalagi relaksasi. Bahwa hidup lebih banyak hal-hal sepele yang kita lakuin daripada ide, diskusi, ataupun obrolan besar nan kosong mengisi waktu lowong tanpa follow up, yang sejujurnya sedikit-sedikit meruntuhkan pondasi aku yang suka ngobrol ngalor-ngidul. Entah bagaimana caranya, mungkin iri hati aku yang ngelihat Ahmed dan saudara-saudaranya dekat satu sama lain dan ini secara signifikan bener-bener ngerubah cara pandang aku terhadap keluargaku sendiri and the fact that I am way much closer with my family ever since he is around. He is my favorite reminder to say more Alhamdulillah.

Dengan menulis ini, batere motivasi terasa baru di charge tenaga penuh dan siap untuk menyelesaikan pekerjaan kantor (yang selalu diselang-seling dengan notes konyol nan terasa surgawi) dan menyelesaikan satu essay Indonesia Mengajar angkatan ini. 

Terima kasih Tuhan.

0 comments