TTC Ep. 2: Program Hamil 2023, Another Story of Trying to Conceive

2023 - Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG(K) RSCM KENCANA

Di tahun ini, kami memulai lembaran baru lagi dengan Prof. Iko. Kesan pertama, dokternya lumayan sibuk dan cukup singkat kalau konsul, paling cuman 5-10 menitan aja per sesi dan sudah termasuk USG, ditambah selalu ada dokter yang sedang magang/ko-as dengan beliau setiap sesi. Kalau dibandingkan sama dr. Joko yang kalau USG minimal bisa 5 menit sendiri, kalau sama Prof. Iko harus kita yang aktif bertanya-tanya. 



Pertama kali kami konsul dengan Prof. Iko, beliau minta semua rekapan hasil lab dan sejauh ini sudah cukup. Dengan diagnosa PCOS & Penyumbatan Tuba Kiri, beliau menyarankan untuk ambil program yang berjenjang. Pertemuan pertama, kami dapat oleh-oleh Norelut (untuk pencetus haid), Ovacare (suplement) dan Femara (Obat pembesar sel telur), paralel suplement berupa Asam Folat 1mg, Vit D 5000iu, Glucophage XR 1000mg tetap diminum setiap hari.

Kali Kedua bertemu, untuk pengecekan ukuran sel telur di H+3 Haid dan kali ketiga bertemu di H+8 Haid untuk mengukur efektifitas Femara terhadap perkembangan ukuran sel telur. Setelah konsumsi Femara sebanyak 1 Strip (2 x 5 hari), ukuran sel telurnya masih di 8mm. Akhirnya kemarin diminta untuk tambah dosis Femara sebanyak 1 Strip (2 x 5 hari). 

Konsultasi kembali setelah obat Femara habis, dan ternyata sel telurnya hanya tambah ukuran menjadi 10mm, sedangkan minimal pembuahan di 18mm (itu pun kalau bisa jadi). Sekarang off dulu dan baru bisa kembali konsul di pertengan bulan Maret karena sedang ada kegiatan di luar kota. 

Oia selain itu, saya tetap diminta untuk menurunkan 10% Berat Badan sambil mencukupi asupan gizi rendah karbohidrat dengan memperbanyak serat (sayur & buah) dan protein.

Berikut adalah gambaran biaya yang sudah dihabiskan di fase promil tahun 2023:


Selanjutnya, saya diberikan obat pencetus haid, just in case haidnya telat lagi dan bisa kontrol di tengah bulan Maret. 

Story will continue..

Sedikit tambahan cerita saya secara personal, sebelumnya memang agak tertekan sih buat cepet-cepet punya anak karena memang suami ingin sekali punya momongan, bukan cuman sekedar punya anak, tapi to create family of his own, yang sesuai dengan nilai yang ingin diajarkan. But I think, I just can understand it recently, what it means to have family of your own. Ada benarnya juga, kalau kemarin ngerjain promilnya masih setengah hati dan belum seutuhnya, makanya ditahan dulu sama Allah SWT. 

Saya percaya bahwa anak adalah amanah yang dititipkan untuk merawat dan menyayangi sebaik dan semampu kita, tapi seringkali bahwa rencana Tuhan sama dengan rencana kita. Kemarin masih suka mikir, "Ih kok si A udah punya anak aja, padahal ngurus diri sendiri aja belum becus.." atau "Orang toxic kayak dia kok bisa-bisanya punya anak banyak, mana ga keurus"  Ini kan sebetulnya juga bentuk kesombongan dan menyepelekan orang lain, siapa tau ada rencana lain kedepannya. It truly humbles me, masih dikasih waktu berdua sama suami tersayang untuk kenal lebih dalam satu sama lain.

Memang, ga akan ada kepastian kalau kita sudah berusaha sekuat tenaga lantas merasa berhak menuntut hasil sesuai apa yang kita inginkan. Semoga perjalanan ini jadi suatu pembelajaran untuk kami untuk bisa ikhlas lillahita'ala. Kami mengusahakan yang terbaik, let Allah do the rest, semoga Allah berkenan menitipkan mereka kepada kami.

0 comments