Ep. 2 – You Don’t Have to Be ‘Done’ to Be Ready

This article is part of the series:

 Advice from a Sister from Another Mother

A collection of honest reflections and practical lessons from a 30-something to her 20-something sisters—about love, self-worth, career, money, and navigating this wild thing called life. Written from the other side of the storm—because I might know a thing or two.

What It Really Means to Be ‘Selesai dengan Diri Sendiri’

Kalimat “sebelum menikah, kamu harus selesai dengan diri sendiri” sering terdengar seperti tuntutan halus untuk menjadi completely healed, emotionally stable, financially independent, dan tahu pasti siapa kamu serta mau ke mana hidupmu.

Sounds good. But let’s be honest: siapa yang benar-benar “selesai” dengan dirinya sendiri? Even in my thirties.. I don't even think I am done with myself.

Kita semua adalah work in progress. Bahkan ketika sudah menjalani banyak proses, menyelesaikan terapi, menyembuhkan trauma, dan merasa cukup dalam diri sendiri—hidup tetap akan menemukan cara baru untuk menguji batas.

Jadi, apakah artinya kita harus menunda cinta, relasi, atau pernikahan sampai benar-benar "sempurna"?

I don’t think so.



Being ‘Done’ vs Being Aware

Menurutku, "selesai dengan diri sendiri" bukan berarti sudah tidak punya luka. Tapi berarti kamu sudah cukup sadar dengan apa yang kamu bawa ke meja:

  • Luka seperti apa yang belum sembuh,
  • Pola pikir mana yang sering menghancurkan dirimu sendiri,
  • Trigger apa yang membuatmu reaktif,

Dan tanggung jawab apa yang masih harus kamu pegang sebagai individu—bukan sebagai pasangan seseorang.

Ini tentang emotional self-awareness, bukan kesempurnaan.

Karena kalau kita tidak sadar dengan luka dan pola kita, kemungkinan besar kita akan menjadikannya beban dalam hubungan. Kita bisa:

  • Menuntut pasangan jadi penyembuh luka yang belum kita tangani,
  • Marah tanpa tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan,
  • Atau berharap cinta akan menyelesaikan kekacauan internal yang bahkan kita sendiri belum mau hadapi.

So, What Does “Ready” Really Look Like?

Buatku, siap itu bukan berarti sudah tenang setiap saat. Tapi:

  • Kamu tahu bagaimana cara menangani dirimu sendiri saat sedang kacau,
  • Kamu tahu kapan harus pause dan refleksi alih-alih menyalahkan,
  • Kamu tahu bahwa pasangan bukan tempat pelarian, tapi teman bertumbuh.

Hubungan yang sehat tidak dibangun dari dua orang yang “sudah selesai”, tapi dari dua orang yang mau terus belajar mengerti dirinya sendiri sambil belajar memahami satu sama lain.

A Note from the Other Side

Aku pernah berpikir bahwa saat aku sudah tidak terlalu mudah marah, tidak terlalu banyak luka, dan bisa senyum setiap hari—maka aku akan siap.

Turns out, bahkan di hari-hari terbaikku, aku tetap bisa terpancing, merasa insecure, atau mempertanyakan diri sendiri. Tapi perbedaannya, sekarang aku tahu kapan harus berhenti, mendengarkan, dan tidak melampiaskan.

Dan yang lebih penting: aku tahu itu tanggung jawabku. Bukan tanggung jawab pasangan, teman, atau dunia.

Jadi jika kamu belum merasa "selesai", itu tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah mulai mengenali dirimu sendiri, dan tahu bahwa kamu masih dalam proses—and you're willing to do the work.

You don’t have to be done to be ready.

But you do have to be honest with where you are.

0 comments