This article is part of the series:
Advice from a Sister from Another Mother
A collection of honest reflections and practical lessons from a 30-something to her 20-something sisters—about love, self-worth, career, money, and navigating this wild thing called life. Written from the other side of the storm—because I might know a thing or two.
Rethinking our expectations in love—because your partner isn’t here to fix your life.
Kalau kamu pernah merasa:
"Kenapa dia nggak ngerti aku?"
"Harusnya dia tahu aku butuh apa."
"Kenapa aku udah ngasih semuanya, tapi tetap nggak cukup?"
Mungkin ini saatnya menengok ulang: apa yang sebenarnya kamu harapkan dari cinta?
We Don't Need A Knigt in Shining Armor
Banyak dari kita tumbuh dengan bayangan bahwa cinta sejati akan “menyelamatkan” kita—dari kesepian, luka masa lalu, atau kekosongan yang kita sendiri belum bisa isi. Kita berharap ada seseorang yang datang, melihat semua sisi gelap kita, dan tetap tinggal, atau bahkan jadi yang paling tangguh dan selfless untuk membantu kita membenahi diri kita sendiri.
That’s beautiful. But it’s also dangerous. We are not damsels in distress.
Karena ketika kita menjadikan cinta sebagai delivery service untuk kebutuhan emosional kita—kita nggak benar-benar membangun hubungan. Kita sedang menunggu dilayani.
Dan sebaliknya, kalau kita berusaha jadi people pleaser tanpa batas demi mempertahankan seseorang, itu juga bukan cinta. Itu kontrak tak tertulis penuh tekanan yang ujung-ujungnya bikin capek dua pihak.
Healthy Love Walks Beside You, Not Ahead of You
Cinta yang sehat bukan tentang siapa yang bisa memberi paling banyak, atau siapa yang paling selfless. Cinta yang sehat adalah dua orang yang sadar kebutuhan masing-masing, dan mau tumbuh bersama.
It’s not about always meeting each other’s needs perfectly, but about:
- Communicating them,
- Listening without defensiveness,
- And being willing to show up—on good days and hard ones.
Hubungan itu jalan dua arah. Bukan kang ojol yang kita panggil kapan pun kita merasa butuh.
We Know the Theory. It’s the Practice That Hurts.
Sebagian besar dari kita sudah tahu: cinta yang sehat seharusnya dibangun oleh dua individu dewasa yang sadar diri, stabil secara emosional, dan siap saling bertumbuh.
We know the theory.
Tapi prakteknya? Nggak segampang itu, Ferguso!
Kita tumbuh dengan pola, trauma, ekspektasi yang nggak kita sadari. Kita masuk ke hubungan dengan luka lama, harapan romantis yang berlebihan, dan kadang… inner child yang belum tahu caranya minta tolong dengan sehat.
Dan karena cinta itu sensitif dan dekat dengan ego, sering kali kita nggak sadar kalau kita mulai menuntut, menarik diri, atau menyabotase momen yang seharusnya bisa jadi ruang bertumbuh.
So what can we actually do?
A few things that help, but it requires a lot of your time and your effort getting know yourself, and reflection (yang sayangnya sampai sekarang masih terus aku latih juga):
- Sadari cara kamu minta (atau menolak) kasih sayang.
Kadang kita nggak tahu bahwa diam, marah, atau menjauh adalah cara kita bilang “aku butuh kamu.” Tapi cara itu tidak akan membawa kamu ke hubungan yang sehat. Kamu perlu tahu apa yang kamu rasakan, dan apa yang kamu butuhkan—tanpa menunggu orang lain untuk menebaknya. - Belajar membedakan antara kebutuhan dan ketergantungan.
Kamu boleh butuh dukungan. Tapi pasanganmu bukan pengisi kekosongan batinmu. Kalau kamu mencari orang untuk “melengkapi” kamu, kamu akan selalu merasa kurang. Hubungan bukan tentang dilengkapi, tapi tentang berjalan bersama dengan utuh masing-masing. - Latih keberanian untuk bilang “aku belum tahu caranya menjelaskan, tapi aku ingin mencoba.”
Kamu nggak harus sempurna dalam komunikasi, tapi kamu perlu hadir. - Latih kemampuan untuk mendengar tanpa membela diri.
Saat pasangan menyampaikan rasa sakit atau kritik, naluri kita adalah membela atau menyerang balik. Tapi mendengarkan tanpa defensif adalah fondasi komunikasi dewasa. Ini sulit. Tapi penting. - Belajar mengenali dan mengatur emosimu sendiri.
Marah bukan salah. Tapi melemparkan emosi tanpa tanggung jawab akan melukai hubungan. Tugasmu adalah tahu kapan kamu butuh waktu, kapan kamu butuh jeda, dan kapan kamu butuh bicara dengan kepala dingin. - Pahami bahwa mencintai bukan berarti menyelamatkan.
Kamu bukan penyelamat siapa pun. Dan kamu juga tidak butuh diselamatkan. Kalau kamu membangun hubungan di atas posisi “aku yang memperbaiki dia” atau “aku yang butuh dia untuk sembuh”—itu tidak sehat. Cinta yang tumbuh butuh dua orang yang sadar batas dan tanggung jawabnya sendiri. - Evaluasi ulang ekspektasimu.
Tanyakan ke diri sendiri:
- Apakah aku mencintai dia, atau hanya mencintai ide tentang siapa dia?
- Apakah aku mau didengar, atau cuma ingin dikonfirmasi?
- Apakah aku memberi karena ingin terhubung, atau karena takut kehilangan?
Ini adalah hal yang berbeda-beda, dan jawabannya bisa membuka banyak luka lama.
Ingat: pasanganmu bukan pengganti terapis, bukan Tuhan, dan bukan alat ukur harga dirimu.
Dia juga manusia, dan dia pun lagi belajar, sama kayak kamu
From the Other Side
Aku pernah berada di titik di mana aku berharap pasangan bisa memahami semua kebutuhanku tanpa aku harus bicara. Aku pernah berpikir, “kalau dia benar-benar cinta, dia pasti tahu.”
Tapi ternyata, cinta tidak datang dengan supernatural intuition.
Cinta datang dengan ruang aman untuk jujur.
Dengan keberanian untuk bilang, “Aku butuh dipeluk,” atau “Aku ingin dimengerti, tapi aku belum tahu caranya menjelaskan.” Dan jujur saja—aku dulu pernah merasa bahwa hanya karena aku butuh sesuatu dari pasangan, itu berarti aku lebih lemah, lebih kecil, bahkan… menjijikkan. Aku benci perasaan itu. Dan sampai hari ini, aku masih nggak tahu kenapa aku bisa berpikir begitu.
Mungkin karena aku dibesarkan dengan narasi bahwa perempuan yang kuat itu mandiri, nggak bergantung, nggak merepotkan siapa pun.
Padahal, jadi manusia ya pasti butuh orang lain.
Dan mencintai bukan berarti harus bisa semuanya sendiri.
Waktu aku mulai belajar berhenti memperlakukan hubungan seperti delivery service, dan mulai ngomong apa yang sebenarnya aku rasain—everything changed. Remember, mutual loves requires mutual efforts.
Hubungan yang aku bangun jadi lebih jujur. Lebih setara.
Less magical, but more real.
0 comments