What If I Were My Marine Biologist

I grew up far from the sea.

Bukan cuma secara geografis, tapi juga secara emosional—keluargaku nggak punya tradisi jalan-jalan dengan keluarga, apalagi liburan ke pantai. Satu-satunya kenangan masa kecilku soal laut adalah pergi sekali ke pantai Ancol yang lebih mirip kayak dirty pond, itupun bareng keluarga temanku. Bahkan, saat itu aku belum tahu kalau di masa depan laut bisa jadi tempat paling menentramkan buatku dari hiruk pikuknya dunia. Tempat aku pulang.

Tapi satu hal yang sejak kecil selalu aku tahu adalah: I love to learn about animals. Desperately, deeply. I was that kid who read animal encyclopedias until the pages fell apart. Aku pinjam buku dari perpustakaan berkali-kali, dan saat itu dimana komputer dan internet adalah benda asing, rasanya buku-buku itu adalah pintu kemana saja ke dunia yang jauh lebih besar dari hidupku yang kecil.

Aku bahkan masih ingat betul, satu ensiklopedia yang paling aku sukai adalah tentang anjing dan kucing. Aku baca berulang-ulang sampai at some point in life, aku  hafal semua ras anjing dan kucing yang ada di sana. I could name them all—Scottish Fold, Samoyed, Beagle, Sphynx, Great Dane. Lucunya, meskipun aku hafal luar kepala, aku nggak pernah lihat mereka langsung. Bayangin aja, aku baru benar-benar lihat Great Dane for the first time ketika aku udah umur 20ish tahun. That says a lot about how books shaped my world.

Pas aku baru lulus kuliah, sempat ada fase di mana aku kepikiran untuk magang di taman nasional, karena aku udah mendambakan hidup jauh dari polusi ibukota. Ngebayangin kerja bareng tim konservasi, living close to the wild, kayaknya keren banget. Tanjung Puting dan Way Kambas masuk wishlist-ku. Terutama karena aku juga punya soft spot untuk gajah. Sampai sekarang aku masih suka banget lihat update Tari & Domang dari Tesso Nilo. And I am in awe buat pembangunan jalan tol yang considerate sama jalur migrasi gajah-gajah di Tesso Nilo, akhirnya pemerintah do something right!

Tapi makin ke sini aku makin sadar: kayaknya sih aku bukan orang yang cocok hidup di tengah hutan. I like the idea, but not the physical intensity. Trekking berjam-jam, hidup keras di medan berat—I don’t think I’m built for that. Dan dari situlah aku mulai ngerti: maybe the ocean is more my thing.

Ada sesuatu yang menenangkan dari laut. The sound of waves, the open sky, the way everything seems to move in slow rhythm—it calms me. Dan rasanya lebih cocok buat aku yang pengen healing tanpa harus ngos-ngosan.


If nothing else in the world matters—if money, responsibility, and time were not in the way—I would probably choose to be a marine biologist. The kind who gets to sail, dive, and spend days observing whales, narwhals, dolphins, sharks, seals. I’d dedicate my time observing and learning their patterns, their stories, and what the ocean teaches us about life.

Ada sesuatu tentang makhluk laut yang terasa magis. They are graceful and mysterious being. Mereka hidup di dunia yang nggak bisa kita akses dengan mudah, dan karena itu, mereka selalu terasa seperti simbol dari kebebasan yang tenang.

Dan mungkin, in another life, I’d be someone who joins an expedition to see Penguins. Sailing between icebergs, diving in freezing ocean, observing marine mammals in their natural habitat, jauh dari keramaian, jauh dari ekspektasi siapa pun.

Sounds unrealistic? Yes. But dreams don’t have to be realistic. They just need to be honest.


Sekarang, aku 32 tahun.

Sudah lima tahun menikah. Sepuluh tahun lebih bekerja di dunia yang penuh target, efisiensi budget, dan negosiasi di meja rapat. I earn well. I lived well, alhamdulillah. Aku tahu caranya menjadi dewasa versi dunia: mandiri, profesional, bertanggung jawab, can pull myself together, dan bisa jadi benchmark manusia yang baik.

Tapi kadang aku membayangkan: kalau aku duduk bersebelahan dengan versi kecil diriku—yang tidur sambil memeluk ensiklopedia hewan—apa yang akan dia bilang ke aku? Would she smile in awe? Bangga melihatku kuat? Atau diam cukup lama, menunggu aku yang lebih dulu bertanya, “Kamu kecewa, ya?”

Karena hidupku sekarang jauh dari laut. Jauh dari hutan. Jauh dari dunia yang dulu dia cintai bahkan sebelum tahu namanya. Dulu dia bermimpi hidup bersama paus dan ikan pari—sekarang aku hidup bersama kalender, tuntutan KPI, dan pertanyaan yang tak selalu bisa kujawab.

Aku belum punya anak. Not yet.

Tubuhku punya ritmenya sendiri—PCOS, kata dokter. Tapi jujur saja, bukan hanya tubuhku yang sedang berjuang. Hubungan yang kutumpangi juga kadang terombang-ambing. Setahun terakhir ini terasa seperti pelayaran tanpa peta—aku banyak berhenti, merenung, menarik napas panjang, dan diam-diam bertanya: mau terus atau menepi?

Kadang bukan orang lain yang bertanya “kapan”—tapi pikiranku sendiri. Pelan, seperti ombak yang datang tanpa aba-aba. Tapi aku tahu, ada bagian dari diriku yang masih perlu waktu. Bukan untuk dikejar, tapi untuk dipeluk. Bagian yang belum selesai tumbuh, yang masih ingin bercakap dengan laut, bukan sekadar mengejar jawaban.

Karena versi kecil diriku tidak pernah memimpikan hidup yang sempurna. 

Dia hanya ingin hidup yang terasa jujur.



Sebetulnya aku tau bahwa semua ketetapan Allah sudah di tulis di Lauhul Mahfudz. Dan hidup jarang berjalan seperti rencana. Kadang, angin datang dari arah yang tak kita harapkan. Kadang layarnya sobek. Kadang, kompasnya goyah. Kadang, orang yang duduk di sebelah kita pun mulai ragu mau ikut atau turun di pelabuhan terdekat.

Dan aku? Aku juga pernah ingin turun.

Tapi seperti kapal layar yang sudah keburu jauh dari dermaga, aku belajar satu hal: arah bisa dicari ulang, layar bisa diperbaiki. Selama aku masih mau jujur pada angin—dan pada hatiku sendiri.

I might never become a real marine biologist. I might never sail to the Arctic. Mungkin aku nggak akan pernah menyelam bersama paus bungkuk atau mengarungi celah es sambil mengamati pola perilaku sekelompok Narwhal. Mungkin hidupku akan tetap bergulir di kota yang sibuk, di rapat-rapat proyek dengan customer untuk ngembangin produk baru bahan baku untuk mereka, di pertanyaan-pertanyaan besar di kepalaku yang tak kunjung hening.

Tapi bukan berarti aku harus membuang mimpi itu.

Mungkin jalannya tidak frontal. Mungkin bentuknya lebih lembut—ikut program konservasi singkat, menyelam sekali dua kali dalam setahun, duduk lama di tepi pantai hanya untuk mendengar suara ombak dan mengingat siapa diriku sebelum dunia memberi nama dan jabatan.

Maybe healing doesn’t always need to come with a title or a degree—maybe it just needs sincerity.



Kadang, aku masih merasa jauh dari semua yang pernah aku impikan. Dunia orang dewasa penuh dengan angka, meeting, dan kompromi. Rasanya seperti hidup di daratan yang terlalu padat—sampai-sampai sulit mendengar suara hati sendiri.

Tapi lalu aku berhenti sebentar. Menyalakan video Orca yang melompat di tengah laut. Membuka kembali halaman tua dari ensiklopedia binatang yang kini warnanya mulai pudar. Dan perlahan, aku bisa mendengar lagi suara yang familiar. Suara gadis kecil yang dulu bermimpi besar, yang mencintai dunia bahkan sebelum ia tahu bagaimana caranya mencintai dirinya sendiri.

Dia belum hilang. Dia belum mati. Dia hanya tumbuh—pelan-pelan, seringkali dalam diam. She’s just growing, adapting. Maybe she’s not sailing the ocean, but she’s learning how to breathe through the tides of life.

Dan di sela-sela keheningan itu, aku sadar: versi hidupku hari ini—dengan segala tantangan, kehilangan, bahkan kebingungan—adalah juga bagian dari doa-doa yang dulu pernah kupanjatkan, it's an answered prayer. Mungkin bentuknya nggak selalu seperti yang kubayangkan, tapi aku tahu: aku sudah jauh dari titik awal. Aku sudah menjadi seseorang yang dulu hanya bisa kubayangkan dari balik halaman buku.

Dia hidup dalam cara aku meresapi keheningan. Dalam cara aku berbicara lebih lembut pada diriku sendiri. Dalam rasa takjubku yang belum pudar pada dunia, meskipun luka-luka hidup pernah membuatku nyaris lupa rasanya bermimpi.

Dan mungkin memang mimpi itu bukan untuk dikejar sampai mati-matian, tapi untuk diingat. Agar kita nggak pernah benar-benar kehilangan arah. Agar kalau suatu hari angin berubah lagi, kita masih tahu ke mana harus menyesuaikan layar.

Until then, I’ll keep the ocean inside me.

0 comments