Minggu lalu, aku masih merasa aman. Usia 32 jalan 33 dan belum ada tanda-tanda uban? Lumayan bisa dibanggakan. Kupikir, mungkin genetikku superior, atau stres hidupku terlalu sibuk menyerang organ dalam, jadi belum sempat mampir ke rambut.
Lalu datanglah satu siang di rumah Mama. Aku duduk santai di meja makan, ngobrol biasa, sampai adek perempuanku, yang lebih mirip kembaran menatapku tajam. Matanya melebar, lalu dia tertawa—keras, puas, dan tanpa ampun. “Iiiih ada uban!!” katanya, disusul tawa menggelegar khas adek gatau diri yang tahu cara tepat menjatuhkan harga diri kakaknya.
Aku langsung kabur ke kamar mandi. Dan benar saja—di atas kening sebelah kiri, di antara anak-anak rambut yang biasanya jinak, berdiri satu helai rambut perak dari pangkal sampai ujung rambut. Jelas. Terang. Nggak bisa disangkal. Aku cuma bisa berdiri di depan kaca sambil komat-kamit, “Omaygattttt, kok bisa sepanjang ini aku gatau! Omaygat, Omaygat, Omaygat, Astaghfirullah..."
Yang lebih menyakitkan? Beberapa jam sebelumnya, di mobil perjalanan ke rumah Mama, aku malah usil godain suamiku karena nemu uban sehelai di jenggotnya. Kupikir aku di posisi lebih unggul. Ternyata? Karma nempel lebih cepat dari dari komentar random yang jadi aib nasional.
Dan pas aku tanya ke dia, “Sayang tahu aku ubanan di depan?” Dia jawab santai, “Tahu... kukira emang sengaja.”
Sah. Uban pertama ini bukan cuma perubahan biologis—tapi juga pelajaran besar soal jangan terlalu sombong kalau belum ngaca dari dekat.
Silakan catat—ubanku muncul lebih dulu daripada lunasin cicilanku.
0 comments