Throwing Tantrums Like a Toddler in My 30s — What Screen Overload Did to My Brain

Tiga hari terakhir, aku tuh rada bingung sama diri aku, kok jadi mood swing banget, kayak ngapa-ngapain tuh nggak enak, dan semua terasa salah di mata aku. Terutama ke suami aku. Ngomel nggak jelas, nyindir pasif-agresif, terus ngambek diem. Dia bingung. Aku juga bingung. Tapi satu hal yang kusadari: aku kayaknya lagi ga waras nih.

Akhirnya aku putuskan buat uninstall semua socmed setelah begadang sampe jam 2 pagi karena doomscrolling tanpa arah. The next day, aku baru bisa mikir jernih: ooo aku overstimulated.

Terlalu banyak screen time. Terlalu sedikit gerak. Terlalu banyak input. Terlalu jarang napas. Kepala banjir informasi, hati cranky, dan emosi all over the places.

Dan aku baru sadar, cara aku bereaksi tuh mirip banget sama toddler yang kecapekan main iPad. Bedanya, aku bisa check out Shopee dalam 7 detik.

Tanda-tanda Aku Overstimulated (versi nyata):

Sidenote: Aku pribadi termasuk tipe yang cukup mudah triggered alias lumayan sumbu pendek. Aku nggak bisa denger bunyi notifikasi HP—serius, satu ‘ting!’ aja bisa bikin detak jantung naik. Makanya, udah hampir 10 tahun ini aku hidupin mode silent hampir 24/7. Bukan karena aku anti sosial, tapi karena aku tahu, terlalu banyak suara luar bisa bikin aku pecah di dalam. Pun, sebenernya aku juga selalu ngecek HP kok buat urusan yang penting-penting amat.

  1. Can’t focus, super easy to get distracted.
    Niatnya cuma cek jam, eh kebablasan scroll TikTok 45 menit.

  2. Rumah makin chaotic.
    Barang dimana-mana, entah kenapa ada loyang di atas meja makan, kepala pun sama kacaunya.

  3. Mood swing kayak roller coaster.
    Sedikit trigger aja bisa meledak. Habis itu bete, cynical, terus senyum-senyum sendiri. Habis itu bingung kenapa.

  4. Tidur nggak nyenyak.
    Mata merem, tapi otak masih loading. Bangun pagi juga masih capek, kayak  no matter how long you sleep, it's not enough.

  5. Kebanyakan input, tapi informasinya scattered dan nggak jelas.
    Kayak habis makan junk food: kenyang, tapi nggak ada isi, malah begah.

  6. Ibadah jadi berat, semua hal penting malah ditunda.
    Sholat jadi males banget nget nget nget. Baca buku buntu. Nulis pun nggak bisa mulai. Semua ditunda, padahal tahu itu bikin tambah stres. Aaaaaand it goes back in circle.



Kenapa Kita Gampang Kena di Usia 30-an?

Menurutky, di usia segini, hidup jalan terus tanpa kita sadar. Bangun tidur udah mikirin kerjaan, rumah, pasangan, masa depan.

Multitasking jadi default mode. Tapi ternyata sistem saraf kita nggak built buat overload setiap hari.

Sama kayak anak kecil, kalau kebanyakan stimulasi—kita crash. Dan parahnya, kita sering nyalahin diri sendiri padahal tubuh kita cuma minta istirahat.

Screen time itu licik. Masuk lewat waktu kosong between work atau pas di toilet, pas capek, atau dengan niat 'let's unwind ourself sebelum bobo'. Lalu muncul comparison yang super halus, ads, noise, dan overthinking. Kita nggak sadar, tapi kepala kita banjir informasi, yang mostly  ga penting-penting amat buat hidup kita juga. Dan waktu otak udah nggak bisa proses dengan sehat, emosi kita jadi berceceran— ke pasangan, ke kerjaan, ke hal-hal kecil yang sebenernya nggak salah apa-apa. We become more irritable, always on the edge, and somehow a little bit agitated.

Dan kadang, kita bilang ke diri sendiri: “aku cuma liat-liat FYP kok, nggak ngaruh lah orang nggak kenal." Padahal deep down, ada silent comparison yang numpang lewat. Kita nggak langsung envy. Tapi muncul aja pikiran-pikiran halus kayak: “kok dia bisa?” “kok hidupnya keliatan lebih rapi ya?” Dan itu numpuk. Lama-lama bukan cuma bikin overthinking — tapi juga ngerusak cara kita ngelihat diri sendiri.

Karena ternyata, kita nggak butuh iri sama orang lain untuk merasa gagal. Kadang cukup lihat hidup mereka tiap hari.

Honestly, setelah aku hapus dua socmed utama, aku ngerasa lega banget. Kayak tiba-tiba bisa napas dalam lagi. Rasanya jauh dari ekspektasi siapa pun. Jauh dari harus tahu update hidup orang — yang pada kenyataannya, nggak terlalu penting buat aku. Bahkan dari orang-orang yang dekat sekalipun, kalau emang peduli, mereka bisa reach out dengan satu chat. And I know they're just a call away.

Kalau ada fitur mute buat hidup, aku bakal pencet sekarang. Tapi karena nggak ada, uninstall duluan pun nggak apa-apa.

Gimana Aku Reset Diri:

  1. Uninstall semua socmed, unapologetically. 
    Nggak pamit. Nggak mikir panjang. Aku cuma butuh ruang untuk mikir dan napas.

  2. Jalan kaki sore, no target.
    Cuma jalan, liat langit, tarik napas. Surprisingly calming.

  3. Stretching dan hydrate.
    Basic banget, tapi efeknya nyata. Badan lebih chill, kepala ikut slow down.

  4. DUMP BRAIN. Nulis isi kepala tiap pagi.
    No filter. Just buang semua yang numpuk di dalam.

  5. Pelukan. No code. Just ask. (ke suami sendiri ya!)
    Karena kadang kita nggak butuh solusi. Cuma butuh reassurance.

  6. Recognize: social media triggers my impulsive spending.
    I have some uang jajan. Dan saat aku capek, aku scroll → lihat sesuatu → click → check out. Bukan karena butuh, tapi karena numb and tired. Some other time, consuming IG stories from my favorite Abaya brand can cause tug of war in my brain, between knowing I already have enough vs fear of missing out my next favorite Abayas.

So yes, uninstalling is also me saying: “Stop. You don’t need more things. You need space.”

Final Verdict

Kita kira kita butuh liburan. Padahal mungkin yang kita butuh cuma: Ruang. Waktu. Dan keberanian buat berhenti sebentar. Yang lain bisa nyusul nanti. 

Kalau belakangan kamu ngerasa gampang kesel, makin sering nunda hal penting, dan makin jauh dari diri sendiri—maybe you’re not lazy. Maybe you’re overstimulated.

Dan mungkin, yang kamu perluin sekarang cuma uninstall satu aplikasi… dan bilang ke socmed 'Adios' for a while.

This is me setting my boundaries.

0 comments