Annual Reflection, Tentang Restorasi, Pita Kaset, dan Ruang yang Ditinggalkan

Sebelas tahun yang lalu, di umur 22, aku adalah seorang teknokrat bagi hidupku sendiri. Aku menulis Annual Review pertama dengan presisi seorang arsitek yang yakin bahwa fondasi masa depannya sudah pasti pakai beton. Isinya penuh dengan bullet points ambisius, asumsi bahwa hidup adalah garis linear yang menanjak, dan keyakinan naif bahwa jika aku cukup bekerja keras dan berbaik sangka, Allah akan selalu memberiku lampu hijau dan jalur bebas hambatan. Aku yang umur 22 adalah seorang idealis yang rapi, dia mengira hidup adalah sebuah proyek yang bisa dikelola dengan spreadsheet. Dia pikir dia bisa menaklukkan dunia hanya dengan bermodalkan ambisi dan planner warna-warni.

Kini, di umur 33, aku duduk di depan kursor yang sama dan menyadari bahwa spreadsheet itu sudah terbakar habis, dan aku sedang menulis di atas abunya. Tahun ini bukan lagi soal menaklukkan dunia atau ambisi yang menggulung, melainkan tentang memetakan jalan pulang ke diri sendiri. Aku baru menyadari bahwa hidup tidak pernah instan. Ia lebih mirip mesin radio tua yang berdebu, butuh tangan telaten untuk dibersihkan dan kesabaran untuk mendengarkan desisnya sebelum musik benar-benar dimulai.

Garis Edar Tanpa Poros

Tanggal 19 Agustus 2025 adalah titik di mana duniaku kehilangan pusat gravitasinya. Mama berpulang dalam tidurnya, sebuah akhir yang tenang setelah beberapa minggu kami dipaksa bertarung dengan ketidakpastian medis yang melelahkan, di mana hari-hari kami hanya berisi vague scans, dokter yang memberikan spekulasi kabur, dan tubuh Mama yang menyerah pelan-pelan di hadapan kami yang hanya bisa berdiri disampingnya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kehilangan itu bukan sekadar peristiwa dalam kalender, itu adalah pergeseran lempeng tektonik hidupku. Saat porosnya hilang, aku mendadak melayang di ruang hampa yang dingin. Seluruh teori psikologi dan logika yang selama ini kubanggakan mendadak terasa seperti sampah. Ternyata, kepintaran tidak memberimu imunitas terhadap rasa sakit. 

Having knowledge to name the feeling is one thing, feeling the feeling is another.

Mengetahui bahwa setiap yang bernyawa akan kembali kepada-Nya tidak serta merta menghilangkan rasa sesak di dada atau getaran hebat di tangan saat aku harus mengurus surat-surat administratif kepergian Mama.

Jiwa yang pecah menjadi jutaan keping itu tidak bisa disatukan lagi dengan cara yang sama. Aku merasa seperti sedang memegang Horcrux yang hancur, pecahan diriku ikut terkubur di bawah tanah yang lembap itu. Dan di sinilah aku mulai belajar tentang The Long Goodbye, catatan forensik dan memory bank mamaku.

Dan sejujurnya, ada rasa marah yang diam-diam tumbuh di dalam dada. Aku ngerasa dunia ini nggak adil. Kenapa harus Mama? Kenapa sekarang? Kadang aku merasa perih setiap kali melihat orang-orang yang sudah jauh lebih tua dariku, yang rambutnya sudah memutih, namun masih punya kemewahan untuk memanggil Ibu mereka. Aku iri melihat mereka masih punya tempat pulang, sementara aku hanya diberi waktu tiga dekade untuk mengenal Mama. Rasanya seperti baru saja mulai paham cara menjadi anak yang baik, tapi kesempatannya sudah diambil paksa. Waktu kita terlalu singkat, Ma. Masih banyak cerita yang belum selesai, dan terlalu banyak pertanyaan yang belum sempat Kakak tanyakan.

Sandiwara Ketabahan

Di tengah hari-hari yang terasa seperti merangkak di atas pecahan kaca, aku sering memperhatikan orang-orang dengan rasa penasaran yang perih. Aku melihat rekan kerja yang tertawa di depan mesin kopi, teman-teman yang mengunggah foto liburan, atau saudara yang tampak begitu cepat kembali ke rutinitas.

Aku sering bertanya-tanya, "Bagaimana mereka melakukannya?" Bagaimana mereka bisa begitu cepat menyatukan kembali diri yang hancur? Karena bagiku, ini berat sekali. Ada saatnya di tengah tumpukan laporan kantor, tiba-tiba ingatan tentang Mama lewat begitu saja. Detik itu juga, aku runtuh. Air mata jatuh tanpa peringatan, memaksaku pura-pura sibuk menatap layar monitor yang buram karena genangan di mata.

Kadang aku merasa seperti makhluk asing; satu-satunya orang yang masih berkabung di sebuah pesta yang sudah selesai. Tapi kemudian aku sadar, mungkin duka adalah sebuah sandiwara massal. Mungkin mereka tidak benar-benar pulih, mereka hanya lebih ahli memakai topeng. Mungkin ketabahan mereka hanyalah bentuk lain dari rasa lelah untuk terus menangis.



Arkeologi Memori, Kaset yang Kembali Pulang

Di tengah proses memunguti serpihan jiwa yang berceceran, aku pulang ke rumah Mama. Di sana, di atas meja, ada kotak sepatu League yang masih bagus, sebuah artefak berusia 15 tahun yang duduk manis di samping radio Polytron yang membisu. Begitu kotaknya kubuka, bau masa kecil langsung tercium, perpaduan kertas lama, lem sepatu kering, dan aroma plastik kaset yang khas. Aku sempat bengong, ternyata kaset-kaset lamaku masih ada di sana. Tersimpan rapi seolah waktu berhenti di dalam kotak itu. Ada Chris Brown, Usher, Mariah Carey, Britney, Ne-Yo, sampai Peterpan.

Ingatanku langsung lari ke masa kelas 2 SD. Aku ingat betul betapa terobsesinya aku pada lagu "I Have a Dream" milik Westlife yang dinyanyikan bareng Sherina. Aku merengek pada Mama, minta dibelikan kaset itu dengan kegigihan anak kecil yang belum tahu susahnya cari uang. Mama akhirnya mengiyakan, tapi beliau pulang membawa album Coast to Coast yang tentu saja KW, sampulnya buram dan tulisan print-nya berantakan.

Dulu, aku bahkan belum bisa bahasa Inggris, apalagi membaca tulisan kecil-kecil yang kabur di sampul kaset itu. Aku cuma tahu aku ingin Westlife, dan Mama mengupayakannya dengan caranya sendiri. Kaset KW itu sekarang sudah hilang, tapi memorinya justru jadi kenangan yang manis. Sebagai kado ulang tahunku Desember ini, aku memutuskan untuk berburu kembali kaset-kaset itu. Membeli kaset yang dulu Mama belikan, meski sekarang versinya lebih bagus adalah caraku memanggil kembali kehadiran beliau. Setiap kali pita kasetnya berputar, aku merasa sedang menebus ketidaktahuanku di masa kecil.

Tapi, ada satu penyesalan yang tertinggal. Aku ingat momen bulan Juli lalu, saat kami ke rumah sakit untuk rujukan terakhir. Di dalam mobil yang dingin, aku sempat bertanya, "Ma, Mama paling suka lagu apa?" Mama di masa tuanya memang jauh lebih suka dengar radio daripada putar kaset. Sialnya, karena sifat pelupaku, jawaban Mama saat itu tidak kucatat dan sekarang hilang begitu saja. Di tengah penyesalan itu, aku cuma bisa menebak-nebak, mungkin ada nama Broery Marantika, Teti Kadi, atau Rafika Duri di sana.

Restorasi Polytron dan Mencari Frekuensi Yang Hilang

Radio Compo Polytron Grand Bazzoke warna hitam peninggalan Mama itu kini sedang berada di meja operasi seorang tukang servis. Bentuknya gagah, sisa kejayaan awal tahun 2000-an yang dulu pernah menjadi penguasa suara di warung kelontong kami. Namun, waktu dan debu telah melumpuhkannya.

Aku ingat saat pertama kali mencoba menyalakannya setelah Mama tiada. Radionya masih mau menyala, tapi ia sangat manja, aku harus memutar antena dengan presisi yang melelahkan hanya untuk menangkap satu frekuensi bersih. Sementara itu, pemutar kasetnya benar-benar bungkam. Setelah tiga bulan tergeletak bisu sebagai monumen duka di sudut ruangan, aku akhirnya memberanikan diri membawanya ke tukang servis.

"Mas, ini peninggalan almarhumah Mamaku," pesanku pada si Mas tukang servis, hampir seperti sebuah doa. "Tolong direstorasi ya. Pelan-pelan saja sampai rapi."

Kini, prosesnya sudah setengah jalan. Si Mas tukang servis mengirimkan update yang membuat hatiku berdesir. Saat dibongkar, ternyata bagian dalam Polytron itu sangat kotor, debu bertahun-tahun menumpuk di atas sirkuit dan kabel-kabelnya, menyumbat aliran bunyi yang seharusnya jernih.

Melihat foto jeroan radio yang sedang dibersihkan itu, aku merasa sedang melihat isi dadaku sendiri. Ternyata, duka dan kenangan yang terbengkalai pun bisa menjadi kerak yang menyumbat fungsi hidup. Si Bazzoke hitam itu kini mulai menunjukkan bentuk aslinya lagi dan suaranya kembali jernih, menggelegar tanpa gangguan statis yang menyakitkan telinga. Melihat radio itu pulih selangkah demi selangkah, tumbuh sebuah harapan nyata, bahwa sesuatu yang sudah kotor dan macet total pun, jika dibongkar dengan keberanian dan dibersihkan dengan kesabaran, bisa kembali mengeluarkan harmoni.

Sambil menunggu Polytron itu pulang, aku merayakan Desember dan usia baru ini dengan sebuah tape deck vintage Kenwood KX 3040. Ini adalah caraku menjemput kembali bunyi yang dulu pernah ada, menghidupkan kembali memori tentang tape deck Kenwood milik Papa yang selalu menemani masa kecilku. Btw, Papaku masih ada yaaa.

Pita kaset mengajarkan bahwa duka pun punya durasi yang harus dihormati. Ia tidak bisa di-skip begitu saja seperti lagu di Spotify. Kamu harus mendengarkan desis pitanya, bunyi hiss statis yang jujur sebelum musik dimulai, merasakan getaran motor yang berputar di balik plastik, dan dengan sabar menunggu lagu berikutnya muncul. Ritual membalik kaset dari Side A ke Side B adalah sebuah meditasi, sebuah pengingat bahwa hidup selalu punya sisi lain yang harus dihadapi, seberapa pun lelahnya kita untuk berputar.

Catatan Forensik dan Kontrak Masa Depan

Ketakutanku yang paling besar sekarang bukan lagi soal gagal dalam karier, tapi soal lupa. Aku takut ingatanku akan berkhianat sepuluh atau dua puluh tahun lagi. Aku takut suatu hari aku bangun dan tidak bisa lagi memanggil nada bicara Mama di kepalaku. Maka, pelan-pelan aku mulai mengumpulkan setiap serpihan memori yang tersisa.

Aku mencatat bagaimana aroma koleksi body lotion Mama yang tercampur bau minyak telon, cara beliau memanggil namaku dengan tekanan nada yang khas, hingga celetukan sinisnya setiap kali kami makan di restoran mahal "Mama juga bisa masak ini di rumah, lebih enak dan bersih malah." Aku ingin memahat sosoknya lewat kata-kata. Jadi, saat dunia nanti terlalu bising, aku masih bisa mendengar Mama lewat barisan kalimat yang kukunci di buku catatan.

Di tengah kesibukanku merawat barang-barang lama ini, dunia menuntutku untuk tetap maju. Sebuah kontrak kerja baru datang, menawarkan jalur karier yang jauh lebih menantang. Menandatangani kontrak itu di saat duka masih sangat basah rasanya sungguh aneh. Pendar layar laptop dan halaman yang meminta tanda tanganku seolah menunjukkan kontras yang tajam, di satu sisi aku berjuang menahan masa lalu agar tidak hilang, di sisi lain aku harus berkomitmen pada tanggung jawab profesional tahun-tahun ke depan.

Ada rasa bersalah yang menusuk. Bagaimana mungkin aku merencanakan masa depan di saat hatiku masih tertinggal di bulan Agustus? Tapi, aku teringat kegigihan Mama. Beliau tidak pernah ingin aku jadi lemah. Seperti yang selalu beliau bilang, "Anak perempuan Mama mah walaupun ditinggal di hutan sendirian, Mama percaya bakal baik-baik aja." Menandatangani kontrak ini adalah caraku menghormati setiap tetes keringat dan doa yang beliau curahkan untuk sekolahku dulu. Aku melangkah bukan karena sudah sembuh, tapi karena aku tahu doa-doa Mama adalah jaring pengaman yang akan selalu menangkapku, sekeras apa pun aku jatuh nanti.


Orbit Baru dan Menjadi Kecil

Hidup di umur 33 mengajariku bahwa saat poros utama hilang, kita dipaksa mencari keseimbangan baru. Adik-adikku kini menjadi satelit yang menjaga orbitku tetap stabil, kehilangan Mama justru merestorasi hubungan kami menjadi jauh lebih solid. Orbitku juga dijaga oleh sahabat-sahabat yang mengajakku road trip di awal tahun, dan menemani aku berjoget di festival dangdut saat akhir tahun, bagai sebuah frekuensi jernih untuk menertawakan hidup yang sedang lucu-lucunya ini. Kehadiran mereka membuktikan bahwa duka tidak selalu berarti menangis selama 365 hari.

Namun, duka ini juga memberiku tamparan tentang betapa kecilnya aku. Di kantor, aku dipaksa merasa besar, membedah variabel ekonomi dan skenario geopolitik seolah dunia bisa ditaklukkan dengan angka. Tapi melihat bencana yang datang silih berganti, dari banjir bandang hingga kabar tentang gajah-gajah yang kehilangan rumahnya di Sumatera, aku sadar bahwa segala kalkulasi spreadsheet-ku tidak ada artinya di hadapan kekuatan takdir dan alam.

Kita manusia ini lucu. Kita merasa raksasa, padahal sebenarnya sangat rapuh. Bagiku, duka atas Mama dan kegemasan pada dunia yang makin carut-marut ini akhirnya bermuara pada satu titik, aku ingin belajar bersikap adil. Peduli pada alam bukan lagi soal tren aktivisme, melainkan sebuah bentuk permohonan maaf.

Jika aku tidak bisa menyelamatkan napas Mamaku, setidaknya aku ingin belajar berbuat baik pada alam yang masih memberiku napas hari ini. Aku ingin berhenti menjadi manusia yang hanya tahu cara mengambil. Aku ingin menjadi manusia yang sadar akan batasan, bahwa di atas segala strategi bisnis dan kebijakan publik, ada harmoni yang harus kita hormati jika ingin tetap punya tempat untuk berpijak.

Adulting is a Scam

Dulu aku pikir, menjadi orang tua di usia 30an berarti punya semua jawaban. Ternyata tidak juga. Di tengah semua review strategis dan duka yang berat ini, aku justru menemukan kenyamanan dalam hal-hal yang dulu kuanggap sepele. Aku sedang suka-sukanya main brick Lego KW, menyusun keping demi keping rumah Chibi Maruko-chan dan Spongebob.

Ada ironi yang lucu di sana, seorang wanita dewasa yang siangnya berdebat soal kebijakan publik, malamnya sibuk memastikan meja makan plastik Maruko terpasang dengan presisi.

Ada sesuatu yang meditatif saat jemariku menyusun balok-balok itu. Di dunia nyata, aku memang tidak bisa menyusun kembali hidup Mama atau memperbaiki kebijakan negara yang berantakan. Tapi di atas meja belajarku, aku bisa memastikan rumah Maruko berdiri tegak tanpa cacat. Mungkin ini cara bertahanku, menjadi anak kecil sejenak agar tetap kuat menjadi orang dewasa yang dituntut keadaan. Menjadi dewasa di umur 33 bukan berarti berhenti bermain, tapi tahu kapan harus membiarkan sisi anak kecil di dalam diri mengambil alih, agar kita tidak benar-benar hancur.

Interupsi

Tapi aku berbohong jika aku bilang restorasi ini berjalan mulus. Tepat di hari ulang tahunku, di minggu-minggu terakhir Desember ini, radio yang tadinya kukira sudah mulai jernih mendadak meledak. Semua pertahanan puitis yang kususun sepanjang Desember runtuh, menyisakan puing-puing yang lebih tajam dari sebelumnya. Ternyata, bertambah usia tanpa suara yang paling mengakar dalam hidupku adalah hantaman yang tak bisa diredam oleh metafora kaset atau kepingan Lego. Aku terbangun dengan rasa hampa yang luas, menyadari bahwa penonton paling setia dalam hidupku sudah tidak ada lagi di barisan depan.

Dulu, setiap kali aku mengunggah potongan hidupku di Instagram Story, Mama adalah orang yang paling pertama melihatnya. Beliau bukan sekadar menonton, di sore hari saat kami bertelepon, Mama akan menagih penjelasan. Beliau akan bertanya siapa orang di foto itu, bagaimana kejadiannya, dan ada apa di balik cerita yang aku bagikan. Mama adalah saksi harian atas keberadaanku. Kini, saat aku berulang tahun, aku baru menyadari betapa sunyinya layar ponsel dan telingaku ketika tidak ada lagi yang menanyakan kabar tentang hari-hariku yang remeh.

Sudah beberapa hari ini aku kembali awur-awuran. Di tengah dunia yang sedang bersiap berpesta kembang api, aku justru merasa asing di rumah sendiri. Aku melihat orang-orang sibuk merencanakan perayaan tahun baru, tapi aku justru ingin melarikan diri sejauh mungkin dari segala keriuhan ini. Ada sebuah obsesi yang mendadak muncul tanpa permisi dan memenuhi seluruh rongga dadaku, aku ingin pulang ke Kantor Pusat. Aku ingin ke Baitullah. Ada rasa haus yang membakar untuk melakukan napak tilas ke tanah yang Mama pijak saat Lebaran 2025 lalu.

Dadaku nyeri setiap kali membayangkan Mama berdiri di sana tanpa aku (atau kami) di sampingnya, dan kini aku didera rasa bersalah yang terlambat, kenapa dulu aku tidak memaksakan diri untuk menemani? Keinginan Umroh ini sekarang bukan lagi sekadar ritual ibadah, melainkan sebuah misi nekat untuk menjemput sisa-sisa doa Mama yang mungkin masih tertinggal di udara Mekkah. Aku ingin ke sana hanya untuk mengadu, untuk bersimpuh tanpa perlu menjadi siapa-siapa aku di luar sana. Aku ingin bertanya langsung pada-Nya, bagaimana cara melanjutkan hidup jika pusat gravitasi lamaku sudah tidak ada?

Aku hanya ingin menjadi hamba yang hancur, yang menyerahkan semua rongsokan jiwa ini di depan Ka’bah, karena aku tahu kemampuanku untuk merestorasi diri sendiri sudah mencapai batasnya. Aku butuh intervensi langsung dari Sang Pemilik nyawa. Ternyata, merindukan seseorang yang sudah berada di Barzakh adalah jenis kelelahan yang tidak bisa disembuhkan dengan tidur. Di akhir tahun yang melelahkan ini, aku tidak butuh kembang api, aku hanya butuh tempat untuk tersungkur dan mengakui bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang menjadi dewasa tanpa Mama.

Pada Akhirnya

Hidup di umur 33 tidak pernah se-linear spreadsheet yang kubayangkan sebelas tahun lalu. Hidup itu berisik, penuh desis, dan sering kali harus diputar manual seperti kaset-kaset di dalam kotak sepatu League itu. Aku tidak lagi mengejar kesempurnaan. Aku hanya ingin menjadi seperti radio Polytron yang sedang direstorasi, perlahan-lahan dibersihkan dari debu duka, hingga suatu saat nanti, suaraku bisa kembali jernih, atau setidaknya membaik meskipun dengan goresan di sana-sini.

Aku membayangkan Mama sedang duduk tenang di sana, tersenyum melihat anak perempuannya masih sibuk merapikan radio tuanya, memutar kaset Westlife, dan duduk di lantai menyusun Lego sambil sesekali menyeka air mata. Ma, Kakak masih terus belajar menjadi dewasa, meski ternyata caranya adalah dengan merawat anak kecil di dalam diri Kakak.

Kini, setiap rencana yang kubuat tak lagi sekadar target, tapi bisikan doa: "Ya Allah, sampaikan pahala ini untuk Mama." Aku akhirnya menyadari bahwa cinta kami tidak lagi butuh kehadiran fisik untuk bertemu, ia telah bermutasi menjadi doa yang mengalir tanpa batas. Aku menutup tahun ini dengan hati yang penuh tambalan dan jahitan. Namun anehnya, justru lewat celah-celah jahitan itulah, cahaya bisa menembus keluar.

0 comments