Ep. 12 - Betting on Your Own Safety Net

 This article is part of the series:

Advice from a Sister from Another Mother

A collection of honest reflections and practical lessons from a 30-something to her 20-something sisters—about love, self-worth, career, money, and navigating this wild thing called life. Written from the other side of the storm—because I might know a thing or two.

Sudah lama ya?

I keep opening this draft, staring at the blinking cursor, and then closing it again. Ternyata benar kata orang, kadang hidup itu terlalu sibuk untuk dituliskan atau mungkin, aku terlalu sibuk hidup sampai lupa caranya menuangkan isi kepala ke dalam paragraf yang rapi.

Tapi belakangan ini, ada satu hal yang terus mengusik pikiranku. Bukan soal duka yang tahun ini jadi major event buatku, bukan soal heartbreak, tapi soal sesuatu yang seringnya kita anggap angka tapi sebenarnya sangat personal, soal Career Growth.


The "Stuck" Feeling.

Pernah nggak sih, kamu bangun pagi, buka laptop, lalu tiba-tiba ada perasaan hollow di dada? Kamu nggak benci pekerjaanmu, tapi kamu juga nggak "ada" di sana. Kamu merasa stuck. Kamu sudah terlalu jago di zona nyamanmu sampai-sampai tantangan paling berat setiap hari cuma: "Nanti siang makan apa ya?"

That's the dangerous part. Di saat semuanya terasa aman, itulah saatnya kamu harus mulai waspada.

The Myth of the Safety Net 

Kita sering menganggap safety net (jaring pengaman) itu tempat buat rebahan. Tapi dalam karier, your safety net is actually a trampoline. Ia ada bukan supaya kamu diam, tapi supaya kamu berani lompat lebih tinggi tanpa takut remuk pas jatuh.

Your safety isn't the big company name on your LinkedIn. Tabunganmu, skill yang kamu asah sambil begadang, dan mentalitas "survived-a-breakdown-in-the-office-toilet" itu jaringnya. And it’s time you start betting on it.

Saying "Yes" When the Opportunity Knocks 

Aku dulu mikir kalau siap itu adalah sebuah perasaan. Kayak ada cahaya ilahi yang turun terus bilang, "Now you are ready, My Child."

Spoiler alert: Being ready is a myth. Kesempatan itu nggak pernah ngetuk pintu pas kita sudah dandan rapi dan penuh percaya diri. Dia biasanya datang pas kita lagi pakai daster, rambut acak-acakan, dan lagi mempertanyakan keputusan hidup sejak tahun 2014.

  • Opportunity: "Hey, we need someone to lead this messy, high-stakes project."
  • Delulu Brain: "I'm not ready. I'm just three raccoons in a trench coat trying to pass as an adult."
  • Real Brain: "Say yes anyway. Figure out the 'how' while you’re already in the room."

Embrace the Uncertainty, but Be Strategic 

You gotta be brave and embrace uncertainty. Tapi, ada garis tipis antara "Berani" dan "Nekat tapi ga pake otak." Kamu harus tetap strategis soal your mess:

  1. Is this uncertainty "Growth" or just "Stress"? Growth bikin kamu makin tajam  dan stress cuma bikin kamu cepat tua. Pilih ketidakpastian yang menambah senjata baru di kantongmu.
  2. Betting on yourself, but check the odds. Jangan asal resign buat mencari diri sendiri tanpa rencana. Jadilah perempuan yang punya backup plan untuk backup plan-nya, tapi tetap punya keberanian buat mengabaikan keduanya kalau ada taruhan yang benar-benar sepadan.

The Invisible Price of Playing Small 

Kita sering banget sibuk menghitung "Gimana kalau nanti gagal? Gimana kalau rugi? Gimana kalau malu?" Tapi kita jarang menghitung biaya dari Inaction (diam di tempat). Staying small has a price tag, too. Harganya adalah rasa penasaran yang nggak habis-habis, potensi yang perlahan tumpul, dan waktu yang nggak bisa balik lagi. Kalau kamu terus-terusan menunggu "lampu hijau" dari semesta, kamu bakal sadar kalau semesta itu nggak punya lampu lalu lintas dan dia cuma punya hutan rimba yang nunggu buat kamu tebas jalannya.

Betting on your safety net bukan cuma soal mengejar untung, tapi soal berhenti membayar "biaya admin" untuk rasa takutmu sendiri.

The "Sister" Reality Check 

Kalau kamu tetap diam di tempat yang sama cuma karena "aman", sebenarnya kamu nggak lagi melindungi kariermu. Kamu lagi membusuk perlahan.

You have to be brave enough to be the "newbie" again. Berani buat nanya pertanyaan "bodoh". Berani buat mempertaruhkan kenyamanan hari ini demi masa depan yang bikin jantungmu deg-degan lagi.

Because at the end of the day, the biggest risk isn't failing at a new job. Risiko terbesarnya adalah bangun lima tahun dari sekarang dan sadar kalau kamu masih duduk di kursi yang sama, memakai "keamanan" yang sama, sambil bertanya-tanya: "Dulu di balik pintu itu ada apa ya?"

Stop nesting in your safety net. Start betting on it.

0 comments