Can I Really Buy This in Good Conscience?

Dunia lagi gonjang-ganjing, berita dua minggu terkahir itu isinya kalau nggak perang, krisis kemanusiaan, kekecewaan terhadap pemerintul, ya ekonomi yang makin seret, tapi di sisi lain aku malah sibuk scrolling katalog abaya. I know, I know. Kayaknya ada yang salah sama sistem di otak aku. Di satu sisi, I am so grateful to be in a position to think and to choose (what a such privilege) antara milih buat spend uang yang nominalnya bisa bantu nyambung hidup satu keluarga di luar sana, atau nurutin keinginan aku yang lucu-lucu-gemes-beli ini.


Masalahnya, kegalauan aku ini berlapis. Aku kan lagi di masa transisi, insya allah baru full berhijab. Logically, yang aku butuhin sekarang itu alat tempur buat ngantor. Kemeja, celana bahan, rok yang proper, yang fungsional, yang bikin aku nyaman buat mobilitas kerja dari Senin sampai Jumat. Itu kebutuhan. Fair enough. Tapi kenapa sih, yang malah bikin aku addicted tuh malah abaya yang cuma bisa aku pake pas weekend atau pas kajian deh?

Dan pas aku liat lemari, aku makin pusing sendiri. Kapan juga aku mau pake abaya-abaya itu? Weekend kan durasinya cuma dua hari, itu pun kadang di rumah aja dan nggak keluar (ditambah suamiku suka insekyuuur kalo aku pergi keluar pake abaya, cantik dan rapih bangetzzz sementara dia kaos+celana pendek kayak bapak-bapak mau cod knalpot). Sementara kemeja kantorku yang beneran aku butuhin buat setiap hari, malah seringkali nggak aku prioritasin. Aku sibuk beli abaya yang bakal ngandang di lemari, sementara kemeja kerja yang harusnya di-rotasi malah numpuk itu-itu aja. The irony is real.

Honestly, di Ramadhan tahun ini banyak banget temen-temen yang ngeluh jualannya, termasuk kue kering dan hampers belum kemana-mana. Ekonomi beneran lagi seret, sesuai sama datanya Kantar. Jadi tiap mau checkout, ada suara di kepala yang nanya "Eh, ini beneran bantu UMKM, atau cuma excuse biar bisa belanja padahal lo nggak butuh-butuh amat?" 

Can I really buy this in good conscience? I don't even know. 

Terus ada hal lain yang bikin aku makin overthinking. Bukannya harusnya berpakaian yang sesuai syariat itu bikin aku makin mendekat & bersyukur kepada Allah SWT, Pemilik Alam Semesta? Tapi kenapa realitanya aku malah makin trapped dalam konsumsi berlebih? Kenapa aku jadi sesibuk itu engaging di topik baju syar'i di thread yang isinya malah memotivasi baju yang harus dibeli? Bukannya makin tawadhu, kok malah makin laper mata. A bitter pill to swallow indeed. Rasanya ironis banget kalau baju yang niatnya buat ibadah, malah jadi sarana buat manjain ego dan nafsu belanja yang nggak ada ujungnya. Kayak... what am I even doing?

Di momen kayak gini, omongan suami aku somehow terus terngiang-ngiang di kepala kayak kaset rusak. Dia pernah (sering sih, kayak tiap hari) bilang, "jadilah orang yang ngerasa cukup, bukan ngikutin nafsu." Jleb banget. Dia itu tipe yang very skeptical tiap liat aku hobi banget nge-preloved abaya(s) atau barang-barang aku yang lain. Pertanyaannya selalu sama dan selalu bikin aku mati kutu, "kalau ujung-ujungnya bakal di-preloved, kenapa dari awal dibeli? kan mubazir." 

Dan dia bener. Kalau dipikir-pikir, siklus beli-jual-beli-jual ini makan berapa banyak resources sih? Waktu, uang, tenaga... yang harusnya bisa dipake buat ngerjain hal lain yang lebih berfaedah, khatamin Quran misalnya. Aku kayak terjebak di siklus setan: beli karena laper mata > numpuk di lemari > bingung mau pake kapan > ngerasa bersalah > akhirnya di-preloved dengan harga yang pasti jauh di bawah harga beli. Siklus ini tuh sebenernya cuma cara aku buat menormalisasi sifat impulsif aku aja. Padahal ya akunya aja yang belum bisa ngerasa cukup.

Entahlah, aku beneran masih galau. Antara pengen support brand lokal, butuh baju kantor karena transisi hijab, pengen ngerasa kayak princess tiap pake abaya, tapi di sisi lain ngerasa "Aduh, udah dong... dunia lagi sedih, masa lo belanja terus?". Perang batinnya nggak selesai-selesai, dan aku masih duduk di sini, ngetik ini sambil masih ada tab open buat checkout abaya yang kebuka di browser lain. Ya Allah, tolong akuuuu....

Ya Allah, Ya Mujib, Ya Muqallibal Qulub, lunakkan hati ini supaya nggak gampang kegoda, dikasih rasa cukup yang luas, dan dijauhkan dari sifat boros yang nggak berujung. Semoga setiap pilihan yang aku ambil nggak cuma soal estetika, tapi beneran bawa keberkahan dan bikin hati lebih tenang. Karena jujur, capek banget kalau hati isinya cuma pengen ini-pengen itu terus, padahal waktunya juga nggak ada. 

Aamiin ya Rabb. 

0 comments