Tentang Kematian, Kehilangan, dan Kesadaran Yang Belum Terlambat

Aku bersyukur bisa takziyah-melayat ke rumah Tanteku minggu lalu. Bukan di saat masih ramai-ramainya tamu yang menunjukan belasungkawa, tapi justru setelah pemakaman selesai. Saat orang-orang mulai pulang, makanan-makanan sudah dingin, dan tangisan sudah habis. Rumah tinggal sepi, cuma ada tanteku, tanteku satu lagi, dan beberapa sepupuku. Itu pun mereka semua duduk diam. Nggak nangis, nggak ngobrol. Kosong. Kayak kebingungan kolektif.

Pas aku dan suamiku datang, bukan berarti kami bawa cahaya surgawi atau kebijaksanaan mahahebat. Tapi kayaknya kehadiran kami cukup bikin mereka bisa “jalanin hidup” lagi sebentar. Mulai dari makan, istirahat, ngobrol, ketawa kecil. Distraksi kecil tapi penting. Nemenin di momen paling hening dan paling bingung.

Dan aku makin sadar, kadang belasungkawa itu justru paling dibutuhkan bukan pas rame-ramenya, bukan pas rumah penuh bunga dan tamu. Tapi ketika semua sudah kembali ke rumah masing-masing, ketika kaki mulai kembali menginjak realita. Ketika seseorang masuk ke rumah yang biasanya disambut, “Sayang udah pulang?” tapi suara itu udah nggak ada. Ketika mereka nyari sosok yang biasanya duduk di kursi favoritnya, di ruang kerja, dengerin meeting dari rumah, atau duduk bareng di meja makan. Tapi kursi itu sekarang kosong. And that silence is.. deafening.

Di titik itulah rasa kehilangan mulai benar-benar menggigit. Bukan waktu air mata tumpah, tapi justru ketika semuanya hening dan kenyataan pelan-pelan muncul:

“Ini sekarang hidupku. Tanpa dia."



Omku orang baik. Sangat baik malah. Salah satu dari sedikit bagian dari keluargaku yang kalem, tulus, dan rajin bantu orang tanpa cari sorotan. Banyak yang merasa kehilangan. Tapi yang paling menyesakkan adalah: aku sadar aku nggak pernah benar-benar kenal beliau sebagai orang dewasa. Aku cuma punya potongan kenangan tentangnya dari sudut pandang anak kecil, yang menghabiskan waktu liburan natal bersama keluarga besar.

Beliau yang membantu kami sebagai MC mewakili pihak keluarga besarku waktu acara lamaran pernikahanku, beradu pantun dengan wakil pihak suamiku di tahun 2020. Beliau juga kepala redaksi Majalah Bobo waktu aku kecil. Dan beliaulah yang bikin aku bisa nonton Operet Bobo pertama dan satu-satunya dalam hidupku. Satu kenangan yang terus insya allah akan aku kenang seterusnya. Kalau dipikir-pikir, mungkin kalau kami lebih sering bertemu, beliau bisa jadi partner diskusi yang asik banget—sama-sama suka baca, suka mikir, suka obrolan serius.

Dan ternyata, bukan cuma aku yang merasa kehilangan. Ucapan belasungkawa yang datang bukan basa-basi. Karangan bunga, doa, pesan, semuanya tulus dan dalam. Orang ini hidupnya berjejak. Nggak heboh, tapi mengakar sangat dalam. Dan itu bikin aku mikir:

Kenapa sih kematian sering dianggap sesuatu yang kotor, negatif, atau bahkan menyeramkan?

Di budaya kita, setelah dari pemakaman aja harus “menetralkan energi”—mandi, cebur kaki, jangan langsung masuk rumah. Padahal baru saja kita mendoakan mendiang, menangis buat dia, worrying them starting another reality di alam barzakh, peluk fotonya. Dalam hitungan jam, sosok yang tadi kita cintai, langsung dianggap bawa sial.

Padahal kalau hidup dijalani dengan baik, kematian itu justru momen paling mulia.

Momen bertemu Tuhan.

Momen semua beban dunia diturunkan.

Momen yang pasti datang, dan nggak bisa disuap atau ditunda.

Hal ini, somehow beririsan sama buku Perjalanan Ruh karya Ibnu Qayyim, buku yang baru aku baca di tahun 2025 ini. Mungkin, aku sedang mempersiapkan kematian orang-orang di sekelilingku yang beranjak tua and my cats (that will be one of my biggest heartbreak), sesuatu yang pasti. That one day, they will leave me, or maybe I'll leave them first. Wallahuallam.

Dan aku jadi melihat kematian bukan sebagai akhir yang menakutkan, tapi sebagai transisi. Ruh itu nggak mati, dia cuma pindah. Orang-orang beriman yang wafat, katanya, akan diberi tempat nyaman, terang, damai, sampai datang hari kebangkitan. Bahwa Al-Mulk yang kita baca setiap mau tidur akan menjadi cahaya terang untuk kita di dalam ruang kubur yang gelap dan sempit. Bahkan ruh-ruh itu bisa saling bertemu. Bisa mengenali siapa yang mendoakan mereka di dunia.

Aku baca itu sambil mikir: betapa sempitnya dulu aku memahami kematian. Seolah-olah hidup ini satu-satunya realitas. Padahal ini justru pengantar. Dan menurut penjelasan Ibnu Qayyim, yang paling menentukan bukan “cara mati”, tapi cara hidup.

Dan di situ aku sadar: omku mungkin tidak spektakuler di mata dunia, tapi cara hidupnya meninggalkan jejak. Jejak yang membekas, bukan cuma di keluarganya, tapi juga di hati orang lain. Orang baik itu bukan yang hidupnya paling ramai, tapi yang kepergiannya paling dikenang dengan ketulusan.

Aku juga jadi mikir ulang soal hidupku sendiri. Aku nggak tahu akan mati dalam kondisi kayak apa. Tapi setelah semua ini, aku lebih takut kalau hidupku nggak punya arti. Lebih takut jadi orang yang cuma ninggalin utang, foto bagus, tapi nggak ninggalin makna. apa-apa buat orang di sekelilingku.

Sebagai versi dewasa dari diriku yang dulu, aku jadi makin mengerti kenapa Islam menekankan kematian sebagai peringatan, bukan teror. Allah bahkan menyebut kematian sebagai mau'izhah—nasihat. Sesuatu yang bikin kita terjaga dari ketidaksadaran.

Aku nggak tahu kapan ajalku datang. Tapi sejak membaca ulang banyak hal, sejak benar-benar memaknai Islam sebagai petunjuk, bukan sekadar identitas, aku merasa sedikit lebih tenang. Karena aku tahu: aku nggak akan selamanya di sini. Dan itu bukan hal buruk.

Aku pulang dari rumah duka hari itu bukan dengan rasa ngeri.

Aku pulang dengan rasa humbled.

Bahwa hidup ini singkat.

Bahwa kebaikan itu selalu ninggalin jejak.

Dan bahwa nemenin orang di masa paling sepinya bisa lebih berarti dari sekadar ucapan “turut berduka”.

Kematian itu bukan kutukan.

Bukan hantu.

Dia cuma... pengingat.

Yang datang diam-diam, tapi meninggalkan gema panjang.

0 comments